Cara Menulis Kajian Pustaka Skripsi Langkah demi Langkah
Kajian pustaka skripsi disusun dengan memetakan temuan penelitian terdahulu, lalu menunjukkan celah yang akan kamu isi. Urutan kerjanya: kumpulkan sumber, baca dan catat temuannya, kelompokkan berdasarkan tema, susun sintesis antarsumber, baru tulis. Panduan berikut membahas tiap langkah secara rinci.
Bedakan kajian pustaka dari daftar ringkasan buku
Banyak mahasiswa mengira kajian pustaka cukup berisi ringkasan satu buku per paragraf. Cara itu menyulitkan penguji melihat alur berpikirmu karena setiap sumber berdiri sendiri tanpa hubungan. Kajian pustaka yang baik menyandingkan temuan beberapa sumber pada satu tema, membandingkan hasilnya, lalu menarik kesimpulan tentang apa yang sudah dijawab dan apa yang belum.
Karena itu, satu paragraf kajian pustaka biasanya memuat lebih dari satu sumber. Kalimat seperti “Sementara temuan X sejalan dengan Y, penelitian Z justru menemukan pola berbeda karena konteks sampelnya berbeda” menunjukkan kemampuanmu menilai, bukan sekadar melaporkan.
Langkah 1: Tetapkan batas topik dan kata kunci pencarian
Tulis rumusan masalah atau pertanyaan penelitian di satu halaman. Dari situ, turunkan tiga sampai lima kata kunci, termasuk padanan istilah asingnya. Untuk skripsi pendidikan, misalnya, kata kunci “motivasi belajar” perlu dipasangkan dengan “learning motivation” agar sumber internasional ikut terjaring.
Gunakan kata kunci itu di Google Scholar, portal jurnal kampus, dan repositori skripsi. Batasi rentang tahun, umumnya lima sampai sepuluh tahun terakhir, kecuali kamu memang merujuk teori klasik.
Langkah 2: Pilih sumber yang layak dirujuk
Skripsi bukan artikel opini. Sumber yang dipakai sebaiknya berasal dari jurnal ilmiah, buku akademik, laporan penelitian, atau dokumen resmi lembaga. Artikel dari blog pribadi dan situs tanpa penyuntingan sebaiknya dihindari, kecuali sebagai data pendukung, bukan landasan teori.
- Artikel jurnal dengan proses telaah sejawat, prioritas utama.
- Buku akademik untuk definisi dan kerangka teori.
- Skripsi, tesis, atau disertasi untuk melihat metode serupa.
- Dokumen kebijakan untuk data konteks, misalnya kurikulum.
Saat mengumpulkan sumber, catat identitas lengkapnya sejak awal: penulis, tahun, judul, nama jurnal, volume, nomor, dan halaman. Mencari ulang data ini di akhir pengerjaan jauh lebih melelahkan.
Langkah 3: Catat temuan, bukan hanya kutipan
Buat tabel kerja sederhana dengan kolom: penulis dan tahun, tujuan penelitian, metode dan sampel, temuan utama, keterbatasan. Isi tabel sambil membaca, bukan setelah semua sumber selesai dibaca. Tabel ini nanti menjadi bahan mentah saat kamu menyusun paragraf sintesis.
Untuk hasil wawancara atau observasi yang kamu baca, perhatikan bagaimana peneliti sebelumnya menyusun instrumennya. Kalau kamu memakai pendekatan serupa, cara menyusun instrumen penelitian kualitatif langkah demi langkah bisa jadi pembanding supaya kritikmu terhadap penelitian terdahulu tetap masuk akal.
Langkah 4: Kelompokkan sumber berdasarkan tema
Setelah tabel terisi, baca ulang kolom temuan dan cari pola. Sumber yang membahas hal serupa dikelompokkan dalam satu subbagian. Struktur kajian pustaka biasanya mengikuti variabel atau fokus penelitian, bukan urutan tahun terbit.
Contoh urutan subbagian untuk penelitian tentang motivasi belajar siswa:
- Konsep motivasi belajar dan indikatornya.
- Faktor keluarga dan lingkungan sekolah.
- Strategi guru yang dilaporkan berbagai penelitian.
- Penelitian yang memakai metode serupa dengan rencanamu.
Subbagian terakhir penting karena menjadi jembatan menuju metode yang kamu pilih. Jika kamu masih ragu antara beberapa instrumen, perbandingan instrumen penelitian angket, wawancara, dan observasi membantu menjelaskan alasan pemilihanmu di bab metode.
Langkah 5: Susun sintesis antarsumber
Sintesis berarti menghubungkan temuan beberapa sumber dalam satu alur kalimat. Ada tiga pola yang sering dipakai. Pertama, menunjukkan kesepakatan: beberapa penelitian menemukan pola yang sama. Kedua, menunjukkan perbedaan hasil beserta dugaan penyebabnya, misalnya perbedaan karakteristik sampel atau alat ukur. Ketiga, menunjukkan perkembangan: penelitian awal membahas satu variabel, penelitian berikutnya menambahkan variabel lain.
Hindari menulis “menurut A” pada setiap awal kalimat. Variasikan dengan menyebutkan objek temuan lebih dahulu, lalu sumbernya di akhir kalimat. Gaya ini membuat paragraf terasa mengalir dan tetap jelas asal rujukannya.
Kajian pustaka yang kuat menjawab satu pertanyaan: dengan temuan yang sudah ada, mengapa penelitianmu masih perlu dilakukan?
Langkah 6: Rumuskan celah penelitian
Di akhir kajian pustaka, tulis satu sampai dua paragraf yang menjelaskan celah. Celah bisa berupa konteks yang belum diteliti, variabel yang belum digabungkan, metode yang belum dipakai pada populasi tertentu, atau temuan yang saling bertentangan dan butuh penjelasan.
Rumusan celah ini harus nyambung dengan rumusan masalah di bab pertama. Jika celah yang kamu sebut tidak berkaitan dengan pertanyaan penelitian, penguji akan mempertanyakan relevansi seluruh bab.
Langkah 7: Rapikan sitasi dan daftar rujukan
Pilih satu gaya sitasi sesuai pedoman kampus, misalnya APA edisi terbaru, lalu terapkan konsisten. Periksa tiga hal yang paling sering salah: nama penulis yang ditulis lengkap di dalam teks, tahun yang tidak cocok antara teks dan daftar rujukan, serta sumber yang dikutip tetapi tidak tercantum di daftar pustaka.
Setelah semua sumber masuk, analisis data yang kamu lakukan nanti tetap harus mengikuti kaidah metodologis. Daftar kesalahan analisis data skripsi yang sering terjadi berguna sebagai daftar periksa agar temuanmu tidak menyimpang dari kerangka yang sudah kamu bangun di kajian pustaka.
Kalau skripsi atau rencana studi lanjutmu berkaitan dengan beasiswa, kebiasaan menulis sistematis seperti ini juga membantu saat menyusun dokumen pendaftaran. Beberapa kesalahan umum dalam menulis motivation letter beasiswa muncul justru karena penulis tidak menjelaskan hubungan antara pengalaman dan tujuan studi.
Ringkasan
Menulis kajian pustaka berarti mengumpulkan sumber yang layak, mencatat temuannya secara terstruktur, mengelompokkan berdasarkan tema, lalu menyusun sintesis yang mengarah pada celah penelitian. Kerjakan tabel catatan lebih dulu, baru menulis paragraf. Urutan ini menghemat waktu revisi karena setiap paragraf punya bahan yang jelas.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa jumlah sumber minimal untuk kajian pustaka skripsi?
Tidak ada angka tunggal yang berlaku di semua kampus. Sebagian program studi menetapkan jumlah minimal dalam pedoman penulisan, sebagian lain menilai kecukupan dan relevansi sumber. Periksa pedoman skripsi program studimu, lalu penuhi jumlah tersebut dengan sumber yang benar-benar relevan, bukan sekadar memenuhi kuota.
Bolehkah memakai sumber dari internet biasa?
Boleh sebagai pelengkap, misalnya data statistik dari situs lembaga resmi. Untuk landasan teori dan pembanding temuan, utamakan artikel jurnal dan buku akademik karena melewati proses telaah. Sertakan alamat situs dan tanggal akses bila pedoman kampus memintanya.
Apakah kajian pustaka harus ditulis sebelum penelitian dilakukan?
Idealnya ya, karena kajian pustaka membantu mempertajam rumusan masalah dan memilih metode. Dalam praktiknya, banyak mahasiswa menambah sumber saat penelitian berjalan setelah menemukan temuan tak terduga. Tambahan itu wajar selama kamu memperbarui sintesis dan daftar rujukan, serta berkonsultasi dengan dosen pembimbing.