7 Langkah Menyusun Pedoman Wawancara Penelitian Kualitatif
5 mins read

7 Langkah Menyusun Pedoman Wawancara Penelitian Kualitatif

Pedoman wawancara adalah daftar pertanyaan dan alur yang kamu bawa saat mengumpulkan data dari informan. Tanpa pedoman yang disusun rapi, wawancara mudah melebar dan datanya sulit dianalisis. Tujuh langkah menyusun pedoman wawancara penelitian kualitatif berikut mengurutkan prosesnya dari persiapan sampai uji coba.

1. Kunci fokus penelitian sebelum menulis pertanyaan

Pertanyaan wawancara hanya berguna kalau mengarah ke rumusan masalah. Sebelum menulis apa pun, tuliskan satu kalimat tentang data apa yang kamu butuhkan. Misalnya, kamu meneliti alasan mahasiswa berhenti mengikuti organisasi kampus. Dari kalimat itu, semua pertanyaan nanti harus bisa dijawab dengan pengalaman informan, bukan opini umum.

Langkah ini juga membantumu menentukan jenis wawancara. Wawancara terstruktur cocok kalau kamu membandingkan banyak informan dengan pertanyaan sama. Wawancara semiterstruktur lebih longgar dan biasa dipakai di skripsi kualitatif karena memberi ruang untuk pertanyaan lanjutan.

2. Tentukan informan dan kriteria pemilihannya

Pedoman wawancara yang baik ditulis untuk orang tertentu. Sebutkan kriteria informan secara konkret: lama pengalaman, peran, atau keterlibatan mereka pada fenomena yang diteliti. Kriteria kabur seperti “orang yang paham topik” menyulitkanmu saat mencari narasumber dan saat menjelaskan metode di bab tiga.

Kalau kamu memakai purposive sampling, tuliskan alasan memilih tiap kategori informan. Jumlahnya tidak ditentukan angka baku. Yang lebih penting, apakah data dari informan baru masih menambah informasi atau mulai berulang.

3. Susun pertanyaan pembuka yang ringan

Beberapa menit pertama wawancara menentukan seberapa terbuka informan. Mulailah dengan pertanyaan faktual yang mudah dijawab, seperti latar belakang pendidikan atau kegiatan sehari-hari yang berkaitan dengan topik. Jawaban pertanyaan pembuka sering membantumu menyesuaikan pertanyaan berikutnya.

Simpan pertanyaan sensitif di tengah atau akhir sesi. Setelah informan nyaman bercerita, pertanyaan yang lebih dalam biasanya mendapat jawaban lebih jujur.

4. Turunkan setiap rumusan masalah menjadi pertanyaan terbuka

Pertanyaan wawancara kualitatif harus membuka cerita, bukan memancing jawaban ya atau tidak. Bandingkan dua contoh berikut:

  • Tertutup: “Apakah Anda merasa kesulitan mengatur waktu kuliah?”
  • Terbuka: “Bagaimana Anda mengatur waktu antara kuliah, kerja, dan kegiatan lain?”

Pertanyaan terbuka memberi informan kebebasan memilih hal yang paling penting menurut mereka. Kamu bisa memecah satu rumusan masalah menjadi tiga sampai lima pertanyaan, lalu memeriksa apakah semuanya masih relevan dengan tujuan penelitian.

Saat menyusun daftar pertanyaan, kamu juga perlu memikirkan data latar belakang informan. Formulir data demografis yang rapi memudahkan proses analisis nanti. Prinsipnya mirip dengan cara menyusun kuesioner penelitian kuantitatif, di mana setiap butir harus punya tujuan yang jelas.

5. Siapkan pertanyaan lanjutan (probing)

Data kualitatif yang dangkal biasanya lahir dari wawancara yang berhenti di jawaban pertama. Siapkan beberapa teknik probing di samping pertanyaan utama:

  1. Meminta contoh konkret: “Bisa ceritakan satu kejadian yang Anda alami?”
  2. Menggali alasan: “Apa yang membuat Anda memilih cara itu?”
  3. Meminta perbandingan: “Bagaimana dengan pengalaman teman Anda?”
  4. Mengulang jawaban dengan kata sendiri untuk memastikan pemahaman.

Probing tidak perlu dihafal. Cukup catat dua atau tiga bentuk yang paling mungkin muncul di topikmu, lalu gunakan sesuai situasi.

6. Atur urutan dan perkirakan durasi

Urutan pertanyaan mengikuti alur cerita: dari pengalaman umum menuju hal spesifik, dari yang netral menuju yang sensitif. Beri jeda antartema agar informan tidak merasa ditembaki pertanyaan.

Perkirakan durasi tiap sesi, misalnya 45 sampai 60 menit, lalu sesuaikan jumlah pertanyaan. Pedoman dengan 40 pertanyaan utama hampir pasti tidak selesai dalam satu sesi. Lebih baik fokus pada 10 sampai 15 pertanyaan inti yang benar-benar mengarah ke rumusan masalah.

7. Uji coba pedoman sebelum turun ke lapangan

Uji coba ke satu atau dua orang di luar sampel penelitian. Tujuannya melihat apakah pertanyaan mudah dipahami, apakah ada istilah yang membingungkan, dan apakah alurnya terlalu kaku. Setelah uji coba, perbaiki redaksi pertanyaan dan buang butir yang ternyata tidak menghasilkan data berguna.

Revisi pedoman juga sebaiknya kamu catat sebagai bagian dari proses penelitian. Kalau kamu memakai kuesioner campuran dalam penelitian, periksa prinsip cara menyusun angket penelitian yang valid dan reliabel agar instrumen kuantitatifmu tidak tertinggal. Bagi mahasiswa yang baru mulai menyiapkan proposal, panduan cara menyusun instrumen penelitian bisa membantu melihat posisi pedoman wawancara di antara instrumen lain.

Siapkan juga hal teknis: lembar persetujuan informan, alat rekam, dan daftar pertanyaan tercetak sebagai cadangan. Untuk mahasiswa yang tinggal jauh dari kampus, menentukan tempat tinggal selama penelitian juga berpengaruh pada kemudahan menjangkau informan. Ulasan kos vs asrama vs rumah sendiri untuk mahasiswa bisa jadi pertimbangan praktis saat mengatur jadwal wawancara.

Kalau penelitianmu juga membutuhkan data kuantitatif pendukung, siapkan berkas administrasi sejak awal. Beberapa program memberikan bantuan biaya penelitian yang menuntut kelengkapan dokumen, dan panduan cara menyiapkan berkas beasiswa langkah demi langkah membantu merapikan berkas semacam itu.

Ringkasan

Pedoman wawancara yang kuat berangkat dari rumusan masalah yang jelas, pertanyaan terbuka, dan informan yang tepat. Setelah urutan pertanyaan dan teknik probing siap, uji coba pedoman ke satu atau dua orang sebelum wawancara sesungguhnya. Revisi kecil di tahap ini menghemat banyak waktu saat analisis data.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Berapa jumlah pertanyaan yang ideal dalam pedoman wawancara?

Tidak ada angka pasti. Untuk wawancara semiterstruktur berdurasi sekitar satu jam, 10 sampai 15 pertanyaan inti biasanya cukup, ditambah pertanyaan lanjutan yang muncul sesuai jawaban informan.

Apakah pedoman wawancara harus sama untuk semua informan?

Bisa sama, bisa berbeda. Kalau informan berasal dari kategori berbeda, misalnya mahasiswa dan dosen, pertanyaannya perlu disesuaikan dengan sudut pandang masing-masing. Yang penting, setiap pertanyaan tetap terhubung ke tujuan penelitian.

Apakah pedoman wawancara perlu dilampirkan di skripsi?

Umumnya ya, sebagai lampiran instrumen penelitian. Lampiran ini membantu pembaca dan penguji menilai apakah pertanyaan yang kamu ajukan memang menjawab rumusan masalah.