5 mins read

Skala Pengukuran Data: Nominal, Ordinal, Interval, dan Rasio

Skala pengukuran data menentukan jenis uji statistik yang boleh dipakai pada hasil penelitian. Salah menentukan skala, kesimpulan skripsi bisa keliru meski angka yang dikumpulkan benar. Empat skala yang umum dipakai adalah nominal, ordinal, interval, dan rasio.

Perbedaan utamanya terletak pada seberapa banyak operasi matematika yang sah dilakukan terhadap data. Semakin tinggi tingkatannya, semakin banyak analisis yang bisa diterapkan.

Ringkasan perbandingan empat skala pengukuran

Tabel berikut merangkum pembeda utama sebelum masuk ke contoh tiap skala.

Skala Ciri Contoh data Uji yang lazim
Nominal Hanya membedakan kategori Jenis kelamin, jurusan Modus, chi-square
Ordinal Ada urutan, jarak tidak sama Tingkat kepuasan, peringkat kelas Median, Spearman
Interval Jarak sama, tidak ada nol mutlak Suhu Celsius, skor IQ Rata-rata, Pearson
Rasio Jarak sama, ada nol mutlak Berat badan, penghasilan Semua uji statistik

Skala nominal: data yang hanya bisa dibedakan

Angka pada skala nominal berfungsi sebagai label, bukan nilai. Memberi kode 1 untuk laki-laki dan 2 untuk perempuan tidak berarti perempuan dua kali lebih besar dari laki-laki. Menjumlahkan kode itu tidak punya makna.

Contoh lain adalah program studi, agama, dan jenis kendaraan yang dipakai mahasiswa ke kampus. Yang bisa dihitung hanyalah frekuensi dan persentase tiap kategori. Ukuran pemusatan yang sah adalah modus, sedangkan uji hubungan yang biasa dipakai adalah chi-square.

Skala ordinal: ada urutan, jarak belum tentu sama

Data ordinal memungkinkan responden diurutkan dari yang paling rendah ke paling tinggi. Kuesioner dengan pilihan sangat tidak setuju sampai sangat setuju masuk kategori ini. Kita tahu responden yang memilih “setuju” lebih positif daripada yang memilih “netral”, tetapi selisih keduanya belum tentu sama dengan selisih antara “netral” dan “tidak setuju”.

Karena jaraknya tidak terjamin setara, rata-rata aritmetika sebenarnya kurang tepat. Banyak peneliti tetap menghitungnya dengan asumsi skala Likert diperlakukan sebagai interval, dan praktik itu perlu disebut sebagai keterbatasan penelitian. Pilihan yang lebih aman adalah median, modus, serta uji korelasi peringkat seperti Spearman.

Cara merancang pertanyaan kuesioner yang menghasilkan data ordinal maupun nominal dibahas lebih rinci di panduan menyusun angket penelitian yang valid dan reliabel.

Skala interval: jarak setara tanpa nol mutlak

Pada skala interval, selisih antarnilai sudah bermakna. Suhu 30 derajat Celsius memang 10 derajat lebih tinggi dari 20 derajat, dan selisih itu setara dengan perbedaan antara 20 dan 10 derajat. Yang tidak masuk akal adalah mengatakan 40 derajat dua kali lebih panas dari 20 derajat, sebab titik nol Celsius bukan ketiadaan suhu.

Skor tes psikologi dan indeks prestasi kumulatif sering diperlakukan sebagai interval. Penjumlahan dan pengurangan sah dilakukan, begitu pula rata-rata dan simpangan baku. Uji korelasi Pearson dan uji-t bisa dipakai, asalkan asumsi normalitas terpenuhi.

Skala rasio: operasi matematika paling lengkap

Skala rasio punya semua sifat interval ditambah nol yang benar-benar berarti. Berat badan 80 kilogram memang dua kali lipat 40 kilogram, dan nilai nol berarti tidak ada massa sama sekali. Penghasilan, usia, jumlah saudara, dan lama studi termasuk contohnya.

Semua operasi aritmetika berlaku, termasuk perkalian dan pembagian. Hampir seluruh uji statistik parametrik bisa diterapkan. Karena itu, peneliti sering berusaha mengukur variabel sedetail mungkin agar datanya masuk kategori ini.

Kesalahan yang sering terjadi saat menentukan skala

Beberapa kekeliruan muncul berulang di laporan penelitian mahasiswa.

  • Menghitung rata-rata dari data nominal, misalnya rata-rata kode jurusan.
  • Menganggap jarak antarpilihan Likert selalu sama tanpa menjelaskan asumsinya.
  • Memakai uji parametrik untuk data ordinal dengan sampel kecil.
  • Menyamakan skala interval dengan rasio, lalu menafsirkan perbandingan kelipatan.

Skala pengukuran juga memengaruhi rumusan hipotesis. Hipotesis yang menyebut “terdapat perbedaan” pada data ordinal lebih tepat diuji dengan statistik nonparametrik. Pembahasan soal ini ada di artikel cara menyusun hipotesis penelitian untuk skripsi pemula.

Memilih skala yang sesuai dengan instrumen

Skala tidak ditentukan setelah data terkumpul, melainkan saat instrumen dirancang. Kalau ingin mengukur intensitas sikap, susun pernyataan dengan pilihan berjenjang dan akui sifat ordinalnya. Kalau butuh data yang bisa diuji dengan regresi, rancang pertanyaan yang menghasilkan angka kontinu, misalnya jumlah jam belajar per minggu.

Untuk instrumen buatan sendiri, uji coba pada kelompok kecil membantu memastikan kategori jawaban tidak tumpang tindih. Langkah teknis penyusunannya bisa dibaca di panduan menyusun instrumen penelitian. Bila masih ragu antara pendekatan kuantitatif dan kualitatif, bandingkan dulu karakter keduanya lewat artikel perbandingan metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan campuran.

Pemahaman soal skala juga berguna saat memilih jalur studi. Beberapa program beasiswa mensyaratkan rencana penelitian yang jelas sejak awal, sehingga calon pelamar perlu tahu data seperti apa yang akan dikumpulkan. Panduan cara cari beasiswa untuk pemula bisa jadi titik awal. Begitu pula saat menimbang jurusan, karena beban statistika berbeda antarp program studi; ulasan jurusan kuliah vs minat membantu melihat konsekuensinya.

Urutan tingkatannya sederhana: nominal paling terbatas, rasio paling lengkap. Menentukan skala dengan benar sejak awal menghemat waktu revisi dan menjaga kesimpulan tetap dapat dipertanggungjawabkan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah data Likert termasuk ordinal atau interval?

Secara konseptual data Likert berskala ordinal karena jarak antar pilihan tidak dijamin sama. Banyak peneliti memperlakukannya sebagai interval dengan asumsi tertentu, dan asumsi itu sebaiknya ditulis terbuka di bagian metode.

Bolehkah menghitung rata-rata pada data ordinal?

Boleh secara aritmetika, tetapi tafsirnya lemah. Median dan modus lebih tepat karena hanya mengandalkan urutan, bukan jarak yang belum tentu setara.

Apa beda interval dan rasio yang paling mudah dikenali?

Keberadaan nol mutlak. Pada skala rasio, nilai nol berarti tidak ada sama sekali sehingga perbandingan kelipatan sah. Pada skala interval, nol hanya titik acuan sembarang.