Panduan Menyusun Tinjauan Pustaka Jurnal Ilmiah
6 mins read

Panduan Menyusun Tinjauan Pustaka Jurnal Ilmiah

Tinjauan pustaka atau literature review dalam jurnal ilmiah memetakan penelitian terdahulu lalu menunjukkan posisi studi baru di antara temuan-temuan itu. Bagian ini menyusun alur argumentasi mengapa penelitianmu perlu dilakukan. Panduan menyusun tinjauan pustaka jurnal ilmiah berikut mengurai struktur, cara memilih sumber, dan pola penulisan yang biasa dipakai penulis jurnal.

Apa Beda Tinjauan Pustaka Jurnal dan Bab Landasan Teori Skripsi

Skripsi biasanya punya bab landasan teori yang memuat definisi dan konsep dasar secara panjang. Tinjauan pustaka dalam artikel jurnal lebih ringkas dan berorientasi pada celah penelitian. Panjangnya sering hanya satu sampai tiga halaman, tapi setiap paragraf harus punya fungsi: menyatakan temuan, membandingkan, atau menunjukkan kontradiksi antar studi.

Penulis jurnal juga dituntut memilih sumber primer berupa artikel di jurnal terindeks, bukan buku teks atau blog. Kalau kamu masih menyusun landasan teori untuk skripsi, langkah awalnya bisa dibaca di panduan menyusun landasan teori skripsi sebelum beralih ke format jurnal.

Fungsi Tinjauan Pustaka dalam Artikel Jurnal

Bagian ini bekerja sebagai jembatan antara pengetahuan yang sudah ada dan pertanyaan yang belum terjawab. Ada tiga fungsi utama yang biasanya melekat padanya.

  • Menunjukkan kesenjangan penelitian. Penulis mengidentifikasi apa yang belum dibahas atau hasil yang masih bertentangan dari studi sebelumnya.
  • Menjelaskan kerangka berpikir. Teori dan temuan terdahulu dipakai untuk membangun asumsi dasar penelitian.
  • Menegaskan kebaruan. Pembaca diajak memahami apa yang berbeda dari penelitian yang kamu lakukan.

Ketiga fungsi itu hanya tercapai kalau penulis benar-benar membaca sumber, bukan mengandalkan abstrak. Membaca hanya abstrak membuat perbandingan antar studi menjadi dangkal karena metode dan konteksnya tidak dipahami.

Struktur Tinjauan Pustaka yang Lazim di Jurnal

Tidak ada satu format baku, tetapi banyak jurnal memakai pola berikut secara berurutan.

  1. Pernyataan tentang pentingnya topik dan ruang lingkup sumber yang dipilih.
  2. Kelompok temuan berdasarkan tema, bukan urutan tahun terbit.
  3. Pembahasan metode yang dipakai studi terdahulu, termasuk keterbatasannya.
  4. Identifikasi celah atau pertanyaan yang belum terjawab.
  5. Pernyataan tujuan atau posisi penelitianmu.

Mengelompokkan sumber berdasarkan tema membuat pembaca melihat pola perdebatan. Urutan kronologis dari tahun terlama ke terbaru memang mudah ditulis, tapi sering menghasilkan paragraf yang terasa seperti daftar.

Cara Memilih dan Membaca Sumber

Mulailah dari kata kunci yang spesifik di pangkalan data jurnal, lalu telusuri artikel yang paling sering dikutip oleh penulis lain di bidang itu. Dari situ, cek daftar pustaka mereka untuk menemukan studi kunci yang mungkin terlewat.

Untuk setiap artikel yang lolos seleksi, catat empat hal: pertanyaan penelitian, metode, temuan inti, dan keterbatasan yang diakui penulisnya. Catatan ini memudahkan kamu menulis paragraf perbandingan tanpa harus membuka ulang berkas PDF. Batasi jumlah sumber pada yang benar-benar relevan, biasanya 20 sampai 40 artikel untuk satu artikel jurnal bidang pendidikan.

Kalau kamu meneliti kualitatif, pahami dulu cara sumber-sumber itu menganalisis data agar perbandinganmu tepat. Ringkasan tekniknya tersedia di panduan analisis data kualitatif.

Pola Penulisan Paragraf Sintesis

Paragraf tinjauan pustaka yang baik bergerak dari temuan bersama menuju perbedaan, lalu diakhiri implikasi bagi penelitianmu. Contoh alur: beberapa studi menyimpulkan bahwa metode diskusi meningkatkan keterlibatan siswa; sebagian lain menemukan hasil serupa hanya pada kelas kecil; perbedaan konteks ukuran kelas itulah yang belum banyak diuji.

Hindari paragraf yang isinya hanya “Penelitian A menemukan X. Penelitian B menemukan Y.” Pola itu disebut anotasi berderet dan tidak menunjukkan hubungan apa pun. Gunakan kata kerja yang menyatakan posisi, seperti mendukung, menolak, memperluas, atau membatasi, untuk menghubungkan satu studi dengan studi lain.

Kutipan langsung sebaiknya dipakai sedikit. Satu kutipan pendek untuk definisi atau pernyataan kontroversial sudah cukup; sisanya parafrasa dengan menyebut penulis dan tahun terbit.

Menyitir dan Mengelola Referensi

Gunakan aplikasi manajemen referensi seperti Zotero atau Mendeley sejak awal. Menyusun daftar pustaka manual untuk puluhan artikel rawan salah format, terutama karena tiap jurnal punya gaya sitasi berbeda. Periksa pedoman penulis di situs jurnal sebelum mengirim naskah, karena gaya APA, MLA, dan Vancouver punya aturan berbeda soal nama penulis dan penulisan tahun.

Tinjauan pustaka yang kuat membuat pembaca sadar akan celah penelitian tanpa perlu penulis menyebutnya secara eksplisit berkali-kali.

Kesalahan yang Sering Ditemukan Penyunting Jurnal

Penyunting jurnal pendidikan kerap menolak naskah karena bagian tinjauan pustakanya hanya mengulang abstrak artikel lain. Beberapa kesalahan lain yang muncul berulang:

  • Mengutip sumber sekunder tanpa memeriksa artikel aslinya.
  • Memasukkan sumber yang sudah berumur lebih dari sepuluh tahun padahal topiknya berkembang cepat.
  • Menyebut “banyak penelitian menunjukkan” tanpa menyebut satu pun penelitian.
  • Menumpuk sitasi di akhir paragraf tanpa menjelaskan isinya.

Sebelum mengirim naskah, cocokkan kembali setiap klaim dengan sumber yang kamu cantumkan. Naskah yang lolos seleksi awal biasanya punya satu hal yang sama: setiap paragraf tinjauan pustaka menjawab pertanyaan mengapa penelitian ini perlu dilakukan.

Menghubungkan Tinjauan Pustaka dengan Metode Penelitian

Pilihan metode sebaiknya muncul dari celah yang kamu temukan. Kalau studi terdahulu banyak memakai angket, padahal fenomena yang kamu teliti lebih cocok digali lewat wawancara, jelaskan alasan itu di bagian akhir tinjauan pustaka. Penjelasan semacam ini memperlihatkan bahwa metode yang dipilih bukan sekadar mengikuti kebiasaan. Perbandingan pendekatan metodologis bisa kamu pelajari di panduan memilih metode penelitian skripsi.

Menyusun tinjauan pustaka jurnal ilmiah menuntut dua keterampilan sekaligus: membaca sumber secara kritis dan menulis sintesis yang mengalir. Mulai dari pemetaan tema, catat temuan dan keterbatasan tiap studi, lalu susun paragraf yang membandingkan dan mengarah pada celah penelitian.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Berapa jumlah sumber minimal untuk tinjauan pustaka jurnal?

Tidak ada angka mutlak, tapi artikel jurnal bidang pendidikan umumnya memakai 20 sampai 40 sumber primer. Yang lebih penting adalah relevansi dan keterbaruan sumber, bukan sekadar jumlah.

Apakah boleh memakai buku sebagai sumber tinjauan pustaka?

Boleh, terutama untuk definisi konsep atau teori dasar. Namun temuan empiris sebaiknya diambil dari artikel jurnal agar bisa dibandingkan metode dan konteksnya.

Bagaimana kalau hasil penelitian terdahulu saling bertentangan?

Justru itu peluang. Jelaskan perbedaan konteks, metode, atau populasi yang mungkin menyebabkan hasil berbeda, lalu tunjukkan bahwa penelitianmu akan menguji salah satu penjelasan tersebut.