Etika – Pengertian Menurut Ahli dan Jenis – Jenisnya

Posted on

Kuliahpendidikan.com – Pada kesempatan kali ini kan akan membahas tentang Pengertian Etika Menurut Para Ahli, Jenis Etika,  Etika Filosofis, etika teologis, Relasi Etika Filosofis dan Etika Teologis, yang akan kita bahas seperti yang ada dibawah ini.

Pengertian Etika

Etika merupakan sesuatu dimana dan bagaimana filsafat mempelajari nilai atau kualitas standar moral dan penilaian. Etika mencakup analisis dan juga penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan juga tanggung jawab.

St. John dari Damaskus (abad ke-7 Masehi) menempatkan sebuah etika dalam studi filsafat praktis nya.

Etika dilakukan saat ketika orang merenungkan suatu unsur pendapat etis spontan kami. Kebutuhan untuk refleksi bahwa kita akan merasa, sebagian juga karena kita mimiliki opini etis tidak jarang berbeda dengan pendapat dengan orang lain. Dalam Hal ini dibutuhkan untuk etika, iyalah untuk mencari tahu apa yang harus dilakukan oleh manusia.

Etika dibagi atas tiga bagian utama antara lain :

  • meta-etika (konsep etika),
  • etika normatif (studi penentuan nilai etika),
  • diterapkan etika (studi tentang penggunaan nilai-nilai etika).

Pengertian Etika Menurut Beberapa Ahli

  • Menurut K. Bertens: Etika adalah nilai-nila dan norma-norma moral, yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur perilaku.
  • Menurut W. J. S. Poerwadarminto: Etika merupakan studi tentang prinsip-prinsip moralitas (moral).
  • Menurut Prof. DR. Franz Magnis Suseno: Etika merupakan suatu ilmu yang mencari orientasi atau ilmu yang memberikan arah dan pijakan dalam tindakan manusia.
  • Menurut Ramali dan Pamuncak: Etika adalah pengetahuan tentang perilaku yang benar dalam profesi.
  • Menurut H. A. Mustafa: Etika adalah ilmu yang menyelidiki, yang baik dan yang buruk untuk mengamati tindakan manusia sejauh bisa diketahui oleh pikiran.

Jenis Etika

Etika Filosofis

Secara harfiah etika filosofis dapat dianggap sebagai etika berasal dari aktivitas berfilsafat atau berpikir, yang dilakukan oleh manusia.etika itu sendiri sebenarnya merupakan bagian dari filsafat dan etika tersebut lahir dari filsafat.

Baca Juga: Manajemen SDM – Pengertian, Fungsi, Tujuan dan manfaatnya

Etika termasuk dalam filsafat, karena itu berbicara etika tidak dapat dipisahkan dari filsafat. Oleh karena itu, jika Anda ingin tahu unsur-unsur etika maka kita harus bertanya juga tentang unsur-unsur filsafat. Berikut ini menjelaskan dua sifat etika:

  1. Filsafat non-empiris diklasifikasikan sebagai ilmu non-empiris. Ilmu pengetahuan empiris adalah ilmu berdasarkan fakta atau beton.
  2. Cabang filsafat praktis untuk berbicara tentang sesuatu “ada”. Misalnya, filsafat hukum mempelajari apa itu hukum. Akan Tetapi etika juga tidak terbatas pada itu saja, tapi bertanya tentang “apa yang harus dilakukan”. Dengan demikian arti etika sebagai cabang filsafat praktis dikarena langsung berhubungan dengan apa yang harus dan tidak harus menjadi manusia. Akan Tetapi yang harus diingat bahwa etika tidak praktis dalam arti menyajikan resep siap pakai.

Etika Teologis

Terdapat 2 hal yang harus diingat berkaitan dengan etika teologis. Pertama, etika teologis tidak terbatas pada agama tertentu, tapi setiap agama dapat memiliki etika teologisnya masing-masing. Kedua, etika teologis adalah bagian dari etika secara umum, karena terdapat banyak unsur di dalamnya yang terdapat dalam etika secara umum, dan dapat dipahami sebagai memahami etika secara umum.

Relasi Etika Filosofis dan Etika Teologis

Ada perdebatan tentang posisi etis etika filosofis dan teologis di ranah etika. Sepanjang sejarah pertemuan antara kedua etika, ada tiga jawaban yang diusulkan penting untuk pertanyaan di atas, yaitu:

  • Revisionisme

Tanggapan ini berasal dari Augustinus (354-430), yang menyatakan bahwa kewajiban untuk merevisi etika teologis, benar dan meningkatkan etika filosofis.

  • Sintesis

Thomas Aquinas (1225-127) memberikan jawaban atas studi etika yang mensintesis etika filosofis dan juga etika teologis sehingga terdapat dua jenis etika, untuk melestarikan identitas masing – masing, menjadi sebuah entitas baru. Hasilnya adalah etika filosofis menjadi lapisan bawah yang bersifat umum, sedangkan etika teologis menjadi lapisan atas yang bersifat khusus.

  • Diaparalelisme

Jawaban yang diberikan oleh F.E.D. Schleiermacher (1768-1834) yang menganggap etika teologis dan etika filosofis sebagai fenomena paralel. Hal ini dapat sedikit seperti sepasang rel kereta api paralel.

Baca Juga:

Demikian lah penjelasan tentang Pengertian Etika Menurut Para Ahli, Etika Filosofis, etika teologis, Relasi Etika Filosofis dan Etika Teologis yang telah di jalaskan diatas. Semoga dapat bermafaat untuk teman – teman sekalian. Terima kasih.